Latar Belakang Indonesia dan Jepang adalah negara kepulauan yang sama-sama terletak pada lempeng utama dunia dan jalur ‘ring of fire’. Oleh karena itu baik Indonesia dan Jepang memiliki potensi bencana yang sangat tinggi. Di Indonesia, sejak tahun 2000 sudah tercatat 17 kali gempa, mulai dari 6 hingga 9 Skala Richter. Bahkan 3 di antaranya termasuk dalam daftar gempa bumi terdahsyat di dunia sejak tahun 1900. Belum lagi banyaknya gunung berapi aktif di Indonesia juga menjadi ancaman tersendiri bagi negeri ini. Begitu pula dengan Jepang, negara yang terletak pada 4 lempeng teknonik sekaligus, yaitu Lempeng Amerika Utara, Lempeng Urasia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Laut Philipina, membuat negara ini memiliki sejarah panjang dalam hal gempa dan tsunami. Tingkat risiko bencana selain ditentukan oleh potensi bencana juga ditentukan oleh upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Sebagai negara yang berada di daerah rawan bencana baik Indonesia dan Jepang tentunya terus melakukan peningatakan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan untuk meminimalkan dampak bencana. Hal ini dilakukan melalui berbagai kajian maupun pendokumentasian pembelajaran-pembelajaran dari masyarakat. Oleh karena itu menjadi menarik dan penting untuk adanya suatu kegiatan yang dapat membagikan pembelajaran baik itu dalam bentuk pengalaman atau hasil penelitian tentang kerentanan, upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang sudah dilakukan baik Indonesia dan Jepang. Oleh karena itu Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI bekerja sama dengan Alumni Kajian Wilayah Jepang UI dan Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan UI (PSKPP) dengan dukungan Japan Foundation berencana mengadakan kegiatan berbagi pembelajaran menjadi sebuah simposium. Pada simposium ini tema lebih difokuskan pada wilayah urban atau perkotaan. Tema ini dipilih mengingat jumlah wilayah urban atau perkotaan yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Wilayah urban dan perkotaan mempunyai karakteristik jumlah penduduk yang lebih padat dan dominan dalam hal perekonomian. Hal ini tentunya menimbulkan tingkat kerentanan yang tinggi ketika terjadi bencana. Simposium dengan judul: Learning From Japan 4th Symposium 2012 - Urban Society’s Vulnerability, Disaster Preparedness and Mitigation in Indonesia and Japan direncanakan akan diadakan pada hari Selasa, 21 Februari 2012 di Universitas Indonesia – Depok. Adapun cakupan topik dalam simposium ini terbagi dalam 3 hal: Tingkat nasional: Kebijakan Nasional dan Implementasi Pengurangan Risiko Bencana pada Wilayah Perkotaan. Tingkat daerah: Kerangka Kerja dan Pembelajaran dari Kota Siaga Bencana. Tingkat komunitas: Upaya Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana pada Komunitas di Wilayah Perkotaan. Tujuan Simposium Membangun hubungan kerja antar Indonesia dan Jepang dalam bidang pengurangan risiko bencana, khususnya pada wilayah perkotaan. Berbagi pembelajaran dari Indonesia dan Jepangtentang pengurangan risiko bencana pada wilayah perkotaan. Tempat dan Waktu Hari / Tanggal : Selasa, 21 Februari 2012 Tempat : Auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok Waktu : 09:00 – 17:30 WIB Peserta : 250 Peserta Jadwal Simposium Waktu Kegiatan 08:00 – 09:00 Registrasi Peserta 09:00 – 09:40 Pembukaan & Sambutan Ketua Pusat Krisis UI Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Duta Besar Jepang Rektor Universitas Indonesia 09:40 – 12:00 Sesi 1: Kebijakan Nasional dan Implementasi Pengurangan Risiko Bencana pada Wilayah Perkotaan § Prof. Atsushi Tanaka – University of Tokyo § Dr. Suprayoga Hadi – Deputi Bidang Pengembangan Daerah Khusus, KementerianPembangunan Daerah Tertinggal § Ir. Sugeng Triutomo, DESS - Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Diskusi dan Tanya Jawab Moderator: Komara Djaja, PhD (Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan UI) 12:00 – 13:00 Ishoma 13:00 – 15:00 Sesi 2: Kerangka Kerja dan Pembelajaran dari Kota Siaga Bencana Prof. Kimiro Meguro – University of Tokyo Ir. Andi Oetomo M.Pl – Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota ITB Danang Samsurizal – BPBD DIY/Forum PRB DIY Diskusi dan Tanya Jawab Moderator: MGR. Erita Narhetali, S.Psi (Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI) 15:00 – 15:15 Coffee Break 15:15 – 17:15 Sesi 3 - Upaya Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana pada Komunitas di Wilayah Perkotaan Hening Parlan – Humanitarian Forum Indonesia Irene Sondang M.Si & Komara Djaja, Ph.D – Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan UI Veronica Dhiana A – World Vision Indonesia Diskusi dan Tanya Jawab (45’) Moderator: Citra Wardhani, M.Si (DRPM UI) 17:15 – 17:30 Penutupan Keikutsertaan peserta dalam acara ini tidak dipungut biaya. Panitia akan menyediakan symposium kit dan konsumsi (snack pagi dan makan siang) selama acara berlangsung. Jika Bapak/Ibu berkenan hadir, kami meminta kesediaan Bapak/Ibu untuk mengisi Lembar Konfirmasi Kehadiran yang bisa di download di sini dan mengirimkannya kembali pada kami selambatnya pada tanggal 17 Februari 2012 melalui telpon, fax, maupun e-mail kami.
Memahami Psychological First Aid (PFA)

Dalam menghadapi situasi krisis, setiap orang memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya sendiri dan kembali normal. Namun pada prosesnya, bantuan dari orang lain sangat dibutuhkan agar pemulihan diri seseorang yang mengalami kejadian kritis dapat berjalan dengan lebih baik dan terhindarkan dari dampak psikologis yang lebih buruk. Layaknya sebuah luka fisik yang terjadi dalam sebuah kecelakaan misalnya, luka tersebut pasti akan sembuh dengan sendirinya tanpa diobati meskipun dengan hasil penyembuhan yang tidak optimal dan waktu penyembuhan yang relatif lebih lama dibandingkan bila luka tersebut ditangani dengan baik. Pemberian P3K bagi luka fisik akibat kecelakan akan sangat membantu dalam proses penyembuhan yang dialami. Begitu juga dengan PFA, luka psikis yang terjadi akibat situasi sulit yang dialami seseorang dapat sembuh dengan sendirinya, namun pasti memerlukan waktu yang lebih lama dan hasil penyembuhan yang tidak optimal dibandingkan bila luka psikis tersebut mendapatkan pertolongan pertama. Dengan memberikan pertolongan pertama dalam situasi kritis yang dialami seseorang maka proses penyembuhan luka psikis akan lebih cepat dan memberikan hasil yang lebih optimal.
Layaknya P3K dalam mengatasi luka fisik manusia, PFA juga mempunyai manfaat dan tujuan yang serupa. Dengan pemberian PFA dalam situasi kritis yang dialami seseorang, maka dapat menghindari semakin bertambahnya luka psikis seseorang yang mengalami situasi kritis dalam hidupnya.
Situasi kritis pasti akan selalu dialami dalam hidup seseorang. Baik berupa sekedar kehilangan dompet hingga kehilangan benda atau orang yang paling berharga dalam hidup seseorang. Oleh karena itulah PFA sangat diperlukan mengingat seringnya kita mengalami atau mengetahui orang di sekitar kita mengalami kejadian sulit. Dengan membekali diri anda dengan kemampuan PFA, anda dapat lebih berguna bagi orang-orang disekitar anda terutama orang-orang yang anda cintai, dan membantu mereka untuk kembali pulih dari situasi kritis yang dialami dan dapat kembali menjalani kehidupan dengan normal.
Pelatihan PFA ini akan memberikan anda pemahaman mengenai situasi kritis dan membekali anda kemampuan praktis untuk melakukan PFA sehingga anda dapat mempraktekkannya dalam kehidupan anda sehari-hari. Keunggulan dari teknik PFA adalah keterampilan ini dapat dilakukan oleh siapapun dan dapat dipergunakan dalam situasi sulit seperti apapun. Bahkan PFA sekarang ini sangat direkomendasikan untuk dimiliki oleh pekerja kemanusiaan atau relawan penanggulangan bencana mengingat kpraktisannya dalam dignakan dan manfaat yang sangat besar dari PFA ini.
Bila anda bergerak dalam bidang bantuan kemanusiaan maka PFA sangat perlu bagi anda untuk mendukung tugas anda dalam memberikan bantuan yang lebih baik bagi masyarakat yang anda layani. Atau bila anda tidak bekerja di bidang bantuan kemanusiaan namun memiliki kepeduliaan yang tinggi dalam upaya membantu orang-orang di sekitar anda, maka dengan memiliki kemampuan PFA anda dapat berperan lebih banyak dan lebih memberikan manfaat bagi orang-orang disekitar anda yang sedang mengalami situasi kritis dalam kehidupannya.
Pelatihan ini diberikan dalam setting pembelajaran orang dewasa yang tidak hanya menekankan kepada pemberian materi satu arah dari narasumber kepada peserta, tapi juga melibatkan peserta secara aktif dalam proses pembelajarannya. Pelatihan akan diberikan selama dua hari, setiap harinya peserta akan berlatih mulai pukup 09.00 hingga pukul 16.00 WIB. Pelatihan yang akan bertempat di Ruang Serbaguna F. Psikologi UI ini dirancang dengan jumlah peserta yang terbatas untuk lebih menjamin penyampaian dan penyerapan materi yang lebih aktif. Kami juga melampirkan brosur pelatihan untuk kejelasan informasi.
Demikian pemberitahuan ini. Kami harapkan kehadiran Anda dalam pelatihan PFA ini dapat memberikan manfaat yang lebih banyak dalam upaya pertolongan pertama bagi orang yang mengalami situasi kritis di sekitar kita. Terima kasih.
YOUR CONTRIBUTION
Anda dapat berkontribusi untuk mendukung keberlangsungan pelayanan Pusat Krisis dengan cara memberikan donasi pada Pusat Krisis. Dengan donasi Anda, kami dapat mengalokasikan lebih banyak dana untuk pelayanan dan program yang ada. Anda dapat menyampaikan donasi melalui:
Pusat Krisis Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia
Ged. TPAM Lt. 1 Kampus Baru UI Depok
Newsletter
Ingin berlangganan Newsletter dari kami?? daftarkan diri Anda di sini
Unduh Materi
|
| (0) |
|
| (0) |
|
| (4) |
|
| (5) |
|
| (8) |


